- Jawaban.com -
Saat Dwi berniat memperkenalkan Bethania kepada kedua orang tuanya, dengan tegas ibu Dwi menolak hubungan cinta yang telah terjalin di antara mereka. Di mata ibunda Dwi, Bethania bukanlah calon yang pantas untuk Dwi, anaknya. Dwi yang saat itu sedang mengikuti pendidikan di sekolah penerbangan akan menjadi seorang pilot dengan masa depan yang cemerlang. Sedangkan Bethania sendiri bukan berasal dari keluarga yang terhormat. Apalagi mereka berbeda suku. Namun penolakan keluarga Dwi tidak membuat Bethania mundur. Ia tetap setia kepada Dwi dan berusaha mempertahankan hubungan mereka dengan sebaik-baiknya.
Dwi sendiri, meskipun ditentang oleh keluarganya, tetap mempertahankan hubungan cintanya dengan Bethania. Dalam kesehariannya, pikiran Dwi dipenuhi dengan impiannya untuk menjadi seorang pilot. Dwi bahkan berjanji kepada Bethania akan mengajaknya terbang tinggi ke angkasa suatu hari nanti.
Demi menepati janjinya, Dwi terus mengasah kemampuannya. Namun di pagi itu, tanggal 28 Januari 1997, saat Dwi seperti biasa menjalani latihan penerbangannya, alam berkata lain. Tiba-tiba, akibat kabut yang sangat tebal, pesawat yang ditumpangi Dwi menabrak Gunung Gede. Seluruh badan pesawat itu hancur dan terbakar. Tim evakuasi baru tiba di lokasi kejadian pukul 2 siang. Tubuh Dwi ditemukan dalam kondisi yang sangat mengenaskan.
Pagi itu, sebelum terbang, Dwi mengabari Bethania mengenai rencana penerbangannya hari itu dan berjanji akan segera memberi kabar kepada Bethania kalau ia sudah mendarat. Namun sampai jam 10 pagi, kabar dari Dwi tak kunjung datang. Hati Bethania menjadi tidak tenang karena seharusnya Dwi tiba di tujuan sejak jam 8 pagi tadi. Telpon pun akhirnya berdering. Dan berita kecelakaan itu pun sampai di telinga Bethania.
Keluarga Dwi sama sekali tidak mau memberikan informasi kepada Bethania mengenai keadaan Dwi. Tak sanggup menahan rasa kuatirnya, empat hari setelah kecelakaan Bethania mendatangi rumah sakit tempat Dwi dirawat. Bukannya informasi yang di dapatnya, melainkan penolakan demi penolakan dari keluarga Dwi harus dihadapi Bethania. Makian demi makian dilontarkan kepada Bethania karena ia dianggap hanya membawa sial bagi kehidupan Dwi dan Bethania tidak diijinkan sama sekali untuk mendekati Dwi. Tidak cukup sampai di situ, Bethania pun sempat diludahi oleh salah satu anggota keluarga Dwi.
Dalam kesedihan yang mendalam, Bethania pergi ke kapel rumah sakit dan berdoa. Bethania berdoa memohon supaya Tuhan tidak mengambil nyawa Dwi. Bahkan Bethania bernazar, kalau memang Tuhan mengijinkan Dwi hidup, Bethania berjanji di hadapan Tuhan, apapun yang akan terjadi, Bethania akan setia mendampingi Dwi sampai selama-lamanya. Begitu Bethania selesai mengucapkan janji itu, di saat yang bersamaan Dwi mulai siuman. Dan pada saat Dwi siuman, tanpa Dwi sadari ia memanggil nama Bethania, kekasihnya. Namun Bethania tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depannya.
Untuk kesekian kalinya cinta Bethania dan Dwi diterpa cobaan. Namun cobaan yang terbesar baru akan terjadi. Keluarga Dwi pun pada akhirnya mengijinkan Bethania untuk bertemu dengan Dwi. Namun Bethania tidak dapat mengenali wajah Dwi lagi. Luka bakar yang diderita Dwi akibat kecelakaan itu sangat parah. Dwi sendiri frustasi saat mengetahui kondisi fisiknya yang sudah tidak berbentuk lagi. Secara fisik kepalanya botak, jari-jari tangannya cacat dan dari pinggang ke atas tubuh Dwi sudah cacat.
Secara psikologis, Dwi merasakan penderitaan yang besar karena tiga bulan lagi ia seharusnya sudah dapat diwisuda dari sekolah penerbangan tersebut. Di rumah sakit, Dwi dikenal sebagai pasien yang paling galak. Dwi sering memaki-maki para suster dan dokter sebagai konpensasi dari kekecewaannya terhadap kondisi fisiknya yang cacat. Hatinya sangat hancur dengan kejadian ini. Cita-citanya dan harapannya untuk berprofesi sebagai pilot pupus sudah.
Dwi sempat mau mengakhiri hidupnya karena tidak dapat menerima kenyataan yang menyakitkan ini. Ada banyak pertanyaan-pertanyaan dalam hatinya mengapa semua ini harus menimpa dirinya. Dwi menjadi orang yang minder karena semua orang memandangnya dengan pandangan yang aneh. Namun Bethania tetap menguatkan Dwi dan berjanji untuk senantiasa mendampinginya. Cinta Bethania lah yang menjadi kekuatan bagi Dwi. Harapan Dwi mulai tumbuh setelah Dwi menjalani 15 kali operasi rekonstruksi. Namun sebuah kabar merusak segalanya.
Perawatan Dwi membutuhkan biaya yang sangat besar. Dan pemerintah menghentikan bantuan biaya yang selama ini telah diberikan untuk perawatan Dwi. Bethania sendiri mendengar selentingan kabar bahwa orang tua Dwi akan mengasingkan Dwi, mengisolasinya ke daerah terpencil. Bethania sangat tidak rela Dwi diperlakukan seperti itu.
Dengan tekad bulat dan penuh keberanian, Bethania mendatangi orang tuanya dan menyampaikan maksudnya untuk menikah dengan Dwi. Tentu saja orang tua Bethania menolak dengan keras keinginan Bethania ini. Tapi Bethania tetap bersikeras ingin menikahi Dwi karena Bethania tidak rela kalau sampai Dwi dibawa ke daerah pedalaman oleh keluarganya. Pada akhirnya, Bethania memberanikan diri mendatangi orang tua Dwi dan pada saaat itulah, Bethania melamar Dwi.
Akhirnya, setelah melalui 25 kali operasi rekonstruksi dan dirawat di rumah sakit selama 1,5 tahun, tanggal 17 Juli 1999, Bethania dan Dwi dipersatukan dalam pernikahan kudus.
"Rasa percaya diri yang mulai muncul itu tidak seketika. Kepercayaan diri itu mulai bertumbuh empat tahun setelah kecelakaan. Itu bukan suatu hal yang singkat. Saya yakin dan percaya bahwa Ibeth (panggilan Bethania), yang sekarang sudah menjadi istri saya, dia adalah seorang penolong yang Tuhan hadirkan di dalam hidup saya. Mungkin kalau tidak ada Ibeth yang Tuhan kirimkan di dalam hidup saya, saya bisa jadi orang gila saat ini atau mungkin saya sudah bunuh diri atau mungkin juga saya akan menjadi orang yang memiliki sifat dan karakter tidak seperti sekarang," aku Dwi dalam kesaksiannya mengenai Bethania, istrinya.
Kini Bethania dan Dwi melayani orang yang sedang mengalami keterpurukan seperti Dwi. Lewat kisah mereka, mereka mau membuktikan bahwa hanya kasih Yesus saja yang sanggup mempersatukan mereka. Sebuah kasih tanpa syarat. (Kisah ini sudah ditayangkan 11 Februari 2008 dalam acara Solusi di SCTV).
Sumber Kesaksian :
Bethania
20080327
Ketika Cinta Sejati Bicara...
Diposting oleh Editor
20080305
Tak Tersembunyi Kuasa Allah...
Tahukah anda dengan lagu ini?
Tak Tersembunyi Kuasa Allah Kalau lain ditolong saya juga
TanganNya terbuka menunggulah Tak tersembunyi kuasa Allah
Atau ...
Yesus.. Yesus.. Dengar doaku Janganlah Tuhan lalui brilah berkatMu
Tahukah anda siapa penciptanya?
Sumber GKI Samanhudi
Frances (Fanny) Jane Crosby, 1820-1915
Sepertinya disengaja dalam anugerah providensia Allah, bahwa saya harus menjadi buta seumur hidup saya, dan saya berterima kasih kepada-Nya untuk pengecualian ini. Jika penglihatan fisik ditawarkan kepada saya besok, saya tidak akan menerimanya. Saya mungkin tidak dapat menyanyikan lagu-lagu pujian untuk memuliakan Allah, jika mata saya mengarahkan diri saya ke hal-hal menarik dan indah dari diri saya.
Sebagai murid sekaligus guru, Fanny menghabiskan 35 tahun masa hidupnya di sekolah. Dia sering diminta untuk menghibur pengunjung dengan puisi-puisi ciptaannya, dan dia beberapa kali bertemu dengan kepala negara,jenderal, atau orang-orang penting lainnya. Dia pernah diminta untuk bermain musik pada pemakaman President Grant. Buku puisinya yang pertama diterbitkanpada tahun 1844 dan diberi judul "Anak Perempuan Buta dan Puisi-puisi Lainnya".
Dalam kebaktian minggu kedua Bulan Musik ini, umat diajak untuk lebih mengenal dan meneladani sosok Fanny Crosby, seseorang yang buta dalam kelemahan dan kesulitan hidupnya dapat terus memuji dan memuliakan Tuhan, bahkan menjadi berkat bagi banyak orang.
Diposting oleh Editor
20080228
Poso memasuki 2008
(ANTARA News) - Menyusul penemuan sejumlah komponen bom, senjata api rakitan, disertai ledakan bom di pinggiran kota Poso, Sulawesi Tengah, kurun dua pekan terakhir, aparat keamanan setempat kini mulai meningkatkan pengamanan di seluruh wilayah Kabupaten Poso.Bahkan penjagaan ekstra ketat diberlakukan pada tiga pintu masuk-keluar wilayah Poso, yakni di pos perbatasan dengan Kabupaten Tojo-Unauna, pos perbatasan dengan Kabupaten Luwu Utara menuju Makassar, serta pos perbatasan dengan Kabupaten Parigi-Moutong menuju Palu.Kapolres Poso, AKBP Drs Adeni Muhan Dg. Pabali yang dikonfirmasi di Poso, Jumat, mengemukakan peningkatan pengawasan tersebut dilakukan untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat Poso yang dalam waktu dekat akan merayakan dua hari besar keagamaan di akhir bulan ini, yaitu Idul Adha, Natal, serta Tahun Baru 2008. "Bukan hanya di pintu masuk-keluar Kabupaten Poso, tapi semua tempat yang dianggap ada celah orang bisa memasuki daerah ini sudah mulai mendapatkan penjagaan ketat dari aparat keamanan," katanya.Kapolres menjelaskan, dalam mengamankan wilayah bekas konflik bernuansa SARA tersebut dari kemungkinan adanya gangguan keamanan menjelang hari-hari besar keagamaan dan pergantian tahun, personel dari semua instansi terkait bekerja sama turun lapangan."Komunitas Intelijen Daerah terdiri atas personil TNI, Polri, BIN, Kejaksaan, Imigrasi, Bea dan Cukai, serta Satpol Pamongpraja, juga akan membantu dalam pengamanan daerah ini," katanya menjelaskan.Sementara itu, ANTARA News di Pos Malei (perbatasan wilayah Kabupaten Poso dengan Tojo-Unauna) melaporkan bahwa setiap kendaraan yang masuk dari wilayah timur Provinsi Sulteng menjalani pemeriksaan aparat gabungan TNI dan Polri.Pemeriksaan dilakukan terhadap kendaraan, penumpang dan barang bawaannya.Penumpang dewasa yang tidak memiliki kartu identitas diri atau memiliki KTP dan mencurigakan menjalani interogasi petugas, sebelum kemudian diperbolehkan melanjutkan perjalanan."Pemeriksaan demikian itu dilakukan hingga memasuki Tahun Baru 2008, dan dapat diperpanjang sesuai dengan perkembangan kondisi keamanan wilayah," kata Kapolres Muhan menambahkan. Sekalipun tengah berlangsung pengawasan ketat di mana-mana, namun sejauh ini aparat keamanan setempat belum menemukan adanya orang atau benda-benda mencurigakan yang dibawa penumpang angkutan umum dan pribadi.Kapolres Poso berharap, dukungan penduduk setempat dalam mempertahankan situasi keamanan dan ketertiban yang sudah kondusif di bekas daerah konflik ini. Sebab diakuinya bahwa aparat keamanan tidak akan mungkin berhasil mengamankan wilayah Kabupaten Poso yang sangat luas. tanpa adanya partisipasi aktif dari masyarakat. "Saya minta masyarakat segera laporkan apabila melihat atau menemukan benda-benda berbahaya atau orang-orang mencurigakan kepada aparat keamanan terdekat, agar segera diambil tindakan," katanya menegaskan.(*)
Diposting oleh Editor
20080225
Pramono ke Jakarta
Hari Minggu kemarin saya mendengar kesaksian Pdt. Pramono Limanto. Tahun 2001 yang lalu dia mencari-cari tempat tinggal di Jakarta, diutus suatu gereja di Surabaya yang di bawah penggembalaan Bapak Jusuf B.S. Setelah mencari-cari tempat yang cocok di Jakarta, Bekasi, Cibubur, Bogor, koq tak ada tempat yang terasa sreg? Terakhir, Pdt. Pramono diajak temannya melihat-lihat daerah Serpong. Memasuki daerah Serpong, hati hamba Tuhan ini merasa kerasan. Mereka mendatangi agen properti dan mencari rumah-rumah yang disewakan. Ada satu rumah yang menarik perhatian Pdt. Pram, sebuah rumah cukup besar, 10 x 25 m, berlantai 2, di pinggir jalan besar. Ketika mereka melihat rumah itu, sayangnya pemilik rumah sedang tidak ada, sehingga mereka tidak dapat masuk dan melihat-lihat bagian dalamnya. Namun di hati Pdt. Pram, rumah ini terasa cocok. Agen itu menawarkan harga sewa Rp. 13 juta per tahun dan minimum harus disewa 2 tahun. Setelah melihat rumah yang dirasa cocok ini, Pdt. Pram kembali lagi ke Surabaya, membicarakan hal itu dengan Bapak Pdt. Jusuf B.S. Gereja setuju untuk membiayai uang sewa selama 2 tahun, sebesar Rp. 20 juta, atau Rp. 10 juta per tahun, ditambah biaya penghidupan. Satu minggu kemudian, Pdt. Pram kembali mendatangi rumah yang akan disewa itu di Serpong. Kali ini ia berhasil ketemu dengan pemilik rumah. “Tahu dari mana, pak, bahwa rumah ini mau disewakan?” tanya ibu pemilik rumah.“Bu, minggu lalu saya diantar oleh agen properti anu.”“Oh, begitu. Beberapa hari yang lalu kontrak dengan agen properti itu sudah habis, jadi bapak bisa berhubungan langsung dengan saya. Berapa harga sewa yang ditawarkan agen properti itu, pak?”“Tiga belas juta per tahun, bu!”“Saya akan bekerja di Jepang dua tahun, rumah ini tidak ada yang menempati. Apakah bapak cocok tinggal di rumah ini?”“Kelihatannya begitu, bu!”“Begini saja. Uang sewanya saya kasih Rp. 10 juta per tahun, tapi jangan ditawar lagi ya?”Mendengar penawaran sang ibu pemilik rumah tersebut, Pdt. Pram langsung bilang di hatinya : Deal! Rumah itu kelihatan bagus, baru direnovasi, lengkap dengan perabotan, bahkan termasuk peralatan dan perlengkapan dapur. Pdt. Pram dan keluarganya tinggal masuk membawa pakaian saja. Selebihnya sudah tersedia. Itulah berkat dari Tuhan. Mereka akhirnya sepakat mengikatkan diri dalam perjanjian sewa menyewa selama 2 tahun. Dalam pelayanannya di Jakarta, Pdt. Pram tidak diutus Tuhan untuk membuka gereja baru, namun pelayanannya aneh dan unik, yaitu membangun generasi baru melalui pelayanan pemuridan. Selama itulah ada banyak orang-orang yang hidupnya dipersiapkan Tuhan melalui pelayanan hamba-Nya, Pdt. Pramono Limanto. Setelah berlangsung setahun lebih, pada bulan Oktober 2002, Pdt. Pram berani menyatakan kepada gembala dan gereja yang mengutusnya di Surabaya, bahwa mulai saat itu bantuan keuangan untuk diri dan keluarganya boleh dialihkan kepada hamba-hamba Tuhan lain yang lebih memerlukan. Gembalanya tanya, “Sudah berapa banyak jemaat yang digembalakan di Jakarta?”“Ah, cuma beberapa orang murid saja…” “Tapi, sebenarnya bantuan keuangan ini masih jatahmu, lho!”“Baiklah, pak Jusuf, saya dengan iman percaya bahwa Bapa di Sorga akan mencukupi kebutuhan kami menurut kekayaan dan kemuliaan dalam Tuhan Yesus Kristus!”“Amin!” kata gembala seniornya, pak Jusuf.Mulailah perjalanan iman, mengandalkan keuangan dari Tuhan langsung, dalam pelayanannya di Jakarta. Empat bulan lagi Pdt. Pram harus membayar uang sewa rumah untuk dua tahun ke depan, padahal saat itu belum ada uang di tangan. Pdt. Pram hanya berdoa, dan ketika ia percaya, mukjizat itu nyata.Pada suatu pagi, jam 5.30, pintu rumahnya diketuk orang. Rupanya seorang tetangga bertamu pagi-pagi itu. Pdt. Pram yang masih mengantuk karena malam sebelumnya melayani konseling via internet, agak kaget menerima tamu sepagi itu. “Shalom, pak. Ada yang bisa saya bantu?”“Oh, maaf, pak Pram, mengganggu. Ini ada oleh-oleh untuk anak-anak bapak.”Pdt. Pram menerima kantong kresek warna hitam dari tangan seorang tetangganya. Ia pikir, isinya donat buat anak-anak.“Terima kasih, ya pak. Koq merepotkan sih…” demikian basa-basi Pdt. Pram.“Ya, sama-sama, pak. Mari pak, saya mohon pamit dulu, karena mau langsung berangkat ke kantor.” Memang orang di sekitar Jakarta ini, pergi pagi-pagi, pulang petang. Ditaruhnya kantong kresek ini di meja makan, lalu Pdt. Pram tidur lagi. Di pagi itu isterinya yang tahu ada tamu yang datang, menanyakan ada apa. “Oh, ada tetangga kita yang kasih donat!”“Dimana donatnya?”“Di meja makan!”Setelah isterinya mencari-cari di meja makan, tidak ada donat. Yang ada cuma kantong kresek. Dibukannya kantong itu dan . . .“Pap, donatnya tidak ada. Yang ada, ini…” Isterinya mengangkat dua gepok uang ratusan ribu. Pdt. Pram kaget sekali. Dihitungnya uang itu. Jumlahnya dua puluh juta rupiah! Tetangganya yang tidak terlalu dikenalnya itu memberi dua puluh juta rupiah. Buru-buru ia bangkit dan mencari nomor Handphone tetangganya. “Shallom, pak!”“Ya, shallom, juga…”“Pak, bapak memberi untuk anak-anak... Saya kira donat.”“Oh, ya, untuk beli donat juga bisa koq.” “Wah, pak. Saya tidak kira, pak. Saya kaget sekali, karena saya baru memutuskan agar kiriman uang dari gereja pusat bagi saya dihentikan saja. Tidak tahunya Tuhan mengirimkan bantuan lewat bapak…”“Oh, kalau gitu kurang dong ya, pak!”“Pak, bukan maksud saya, pemberian bapak kurang, maaf pak. Bukan itu maksud saya. Cuma saya terharu saja, melihat kebaikan Tuhan yang pas waktunya. Terima kasih banyak, pak. Kiranya Tuhan membalaskan kebaikan bapak ini berlipat ganda.”“Ya, terima kasih.”Malamnya tetangga itu yang merasa pemberiannya kurang, ternyata memberi lagi enam juta rupiah. Meskipun Pdt. Pramono dengan segala cara hendak menolak pemberian itu, karena merasa tidak enak, sepertinya memanfaatkan orang untuk berbelas kasihan kepadanya, tapi tetangga itu memaksa. Ia baru tahu kemudian, mengapa ia perlu uang Rp. 26 juta.Segera Pdt. Pram, menghubungi pemilik rumah di Jepang. Via email, ia mendapat jawaban. “Begini, pak Pram. Kebetulan kerja saya di Jepang diperpanjang dua tahun lagi. Uang sewanya disamakan saja dengan penawaran agen properti itu, Rp. 13 juta per tahun dan jangan ditawar lagi!”“Ya, setuju deh bu! Bagaimana bayarnya?”“Nanti kalau saya kebetulan ke Jakarta, transfer ke rekening saya.”“Baiklah, bu!”Enam bulan kemudian, setelah keluarga Pdt. Pram menempati rumah itu untuk periode dua tahun berikutnya, pemilik rumah tiba di Jakarta.“Pak Pram, saya sekarang ada di bandara Soekarno Hatta, mau ke Jogja, tidak sempat mampir ke Serpong. Tapi saya perlu Rp. 5 juta, tolong transfer ya, sisa uang sewa, dipegang bapak dulu saja ya..”Pdt. Pram mentransfer jumlah uang yang dikehendaki, Rp. 5 juta, padahal uang Rp. 26 juta siap ada di tangannya untuk dibayarkan kepada pemilik rumah itu. Aneh juga, ya? Beberapa minggu kemudian, ibu pemilik rumah telpon lagi. “Pak Pram, saya akan pulang ke Jepang, tapi saya perlu beli oleh-oleh. Apakah bisa transfer Rp. 2 juta lagi?”“Bisa, bu! Tapi sisa Rp. 19 jutanya bagaimana?”“Pak Pram simpan saja dulu, barangkali buat renovasi nanti-nanti.” Pdt. Pram baru membayar Rp. 7 juta untuk menempati rumah itu selama dua tahun lagi. Benar-benar ia bersyukur mendapatkan 'land lord' yang murah hati ini, padahal ibu ini bukan orang Kristen. Dan pada suatu saat ada di dalam hati Pdt. Pram hasrat untuk membeli rumah itu. Ia memiliki rumah di Surabaya seluas 10 x 15 m. Ia tanya kepada ibu pemilik rumah via email lagi.“Bu, maaf, adakah rencana ibu untuk menjual rumah itu kepada saya? Rasanya saya cocok sekali tinggal di rumah ini!”“Pak Pram, kayaknya saya juga cocok tinggal di Jepang ini. Dan kalau saya ke Indonesia, saya tidak perlu ke Serpong. Saya hanya mengunjungi saudara-saudara di Jawa. Yah, saya juga berniat menjual rumah di Serpong itu. Tolong ya, pak, carikan informasi dari tetangga dan agen properti, berapa harga pasaran rumah saya itu?”Pdt. Pram mengadakan survai kecil-kecilan dan mendapatkan informasi yang lengkap tentang harga tanah dan rumah di sekitar situ. Ia mengirimkan data itu kepada ibu pemilik rumah.“Bapak memang pendeta!”Di hati Pdt. Pram timbul pertanyaan atas isi email yang pendek itu, “Maksud lu?” Tapi itu tidak ditulis di emailnya, sebaliknya ia menulis, “Berapa bu, harga rumah yang ibu tawarkan?”“Begini, pak. Saya juga meminta teman-teman mengecek harga. Ternyata angka yang diberikan bapak itu akurat, tidak dikurang-kurangi. Saya salut, bapak memang pendeta yang jujur. Oleh karena itu saya mau jual rumah itu seharga Rp. 410 juta, jangan ditawar lagi, pak!”Begitulah selalu, penawaran si ibu selalu diembel-embeli, “Jangan ditawar lagi!” Tapi uang dari Tuhan selalu mencukupi sehingga sang Pendeta tidak harus minta diskon. Rumah Pdt. Pram di Surabaya itu laku terjual dengan harga Rp. 400 juta. Ia setuju mengadakan transaksi jual beli rumah itu dengan harga Rp. 410 juta. Setelah segala urusan jual beli itu selesai, ada satu hal yang masih mengganjal, yaitu sisa uang Rp. 19 juta, uang sewa yang masih harus dibayar itu. Pdt. Pramono menanyakan hal ini kepada sang ibu penjual rumah.“Bu, ada satu hal lagi yang belum beres.”“Apa itu, pak?”“Kan, uang sewa ibu masih ada di saya Rp. 19 juta.”“Wah, bapak memang pendeta jujur. Saya anggap, uang sewa Rp. 7 juta yang sudah saya terima itu sudah cukup, pegang saja uang itu untuk bapak!”Puji Tuhan! Benar-benar kasih karunia Tuhan menyertai kehidupan Pdt. Pramono Limanto ini.Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Diposting oleh Editor
20070522
Kamu Sangat Diberkati! (220507)
Pernah nggak sih kamu ngerasain kalo hidup itu bener-bener 'bad' dan nggak berarti lagi dan berharap, coba kalo kita bisa ada di kehidupan yang lain! Saya akui, saya cukup sering merasa begitu. Saya pikir, hidup ini kayanya cuma nambahin kesulitan-kesulitan saya aja! 'Kerja menyebalkan', hidup tak berguna', dan nggak ada sesuatu yang beres!
Tapi semua itu berubah… sejak kemarin, pandangan saya tentang hidup ini benar-benar telah berubah! Tepatnya terjadi setelah saya bercakap-cakap dengan teman saya. Ia mengatakan kepada saya bahwa walau ia mempunyai pekerjaan dan berpenghasilan sangat minim setiap bulannya, namun ia tetap merasa bahagia dan senantiasa bersukacita.
Kemudian ia menjelaskan bahwa itu semua karena suatu kejadian yang ia alami di India. Hal ini dialaminya beberapa tahun yang lalu saat ia sedang berada dalam situasi yang berat. Ia mengatakan bahwa di India, ia melihat tepat di depan matanya sendiri bagaimana seorang ibu MEMOTONG tangan kanan anaknya sendiri dengan sebuah golok!!
Keputusasaan dalam mata sang ibu, jeritan kesakitan dari seorang anak yang tidak berdosa yang saat itu masih berumur 4 tahun! terus menghantuinya sampai sekarang.
Kamu mungkin sekarang bertanya-tanya, kenapa ibu itu begitu tega melakukan hal itu? Apa anaknya itu 'so naughty' atau tangannya itu terkena suatu penyakit sampai harus dipotong? Ternyata tidak!..... Semua itu dilakukan sang ibu hanya agar anaknya dapat … MENGEMIS…!
Ibu itu sengaja menyebabkan anaknya cacat agar dikasihani orang-orang saat mengemis di jalanan! Saya benar-benar tidak dapat menerima hal ini, tetapi ini adalah KENYATAAN! , Hanya saja hal mengerikan seperti ini terjadi di belahan dunia yang lain yang tidak dapat saya lihat sendiri!
Kembali pada pengalaman sahabat saya itu, ia juga mengatakan bahwa setelah itu ketika ia sedang berjalan-jalan sambil memakan sepotong roti,ia tidak sengaja menjatuhkan potongan kecil dari roti yang ia makan itu ke tanah. Kemudian dalam sekejap mata, segerombolan anak kira- kira 6 orang anak sudah mengerubungi potongan kecil dari roti yang sudah kotor itu… mereka berebutan untuk memakannya! (suatu reaksi yang alami dari kelaparan).
Terkejut dengan apa yang baru saja ia alami, kemudian sahabatku itu menyuruh guidenya untuk mengantarkannya ke toko roti terdekat.
Ia menemukan 2 toko roti dan kemudian membeli semua roti yang ada di kedua toko itu! Pemilik toko sampai kebingungan, tetapi ia bersedia menjual semua rotinya. Kurang dari $100 dihabiskan untuk memperoleh 400 potong roti (jadi tidak sampai $0,25 / potong) dan ia juga meng- habiskan kurang lebih $ 100 lagi untuk membeli barang keperluan sehari-hari. Kemudian ia pun berangkat kembali ke jalan yang tadi dengan membawa satu truk yang dipenuhi dengan roti dan barang-barang keperluan sehari-hari kepada anak-anak (yang kebanyakan CACAT) dan beberapa orang-orang dewasa disitu! Ia pun mendapatkan imbalan yang sungguh tak ternilai harganya, yaitu kegembiraan dan rasa hormat dari orang-orang yang kurang beruntung ini!
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa heran bagaimana seseorang bisa melepaskan kehormatan dirinya hanya untuk sepotong roti yang tidak sampai $ 0,25! Ia mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, betapa beruntungnya ia masih mempunyai tubuh yang sempurna, pekerjaan yang baik, juga keluarga yang hangat. Juga untuk setiap kesempatan dimana ia masih dapat berkomentar mana makanan yang enak, mempunyai kesempatan untuk berpakaian rapi, punya begitu banyak hal dimana orang-orang yang ada di hadapannya ini AMAT KEKURANGAN!
Diposting oleh Editor